Air Quality During Physical Distancing: A Closer Look in Jakarta
Melihat Lebih Dekat Kualitas Udara Jakarta Selama Pembatasan Sosial
21-09-2020    |    Berita dan Artikel

Dalam menanggulangi pandemi COVID-19, DKI Jakarta melakukan tindakan pembatasan sosial lebih awal dibandingkan provinsi lain di Indonesia. DKI Jakarta memulai pembatasan sosial pada tanggal 16 Maret di mana warga Jakarta disarankan untuk Bekerja dari Rumah (WFH) dan berlanjut ke Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 10 April 2020 lalu. Pembatasan sosial yang lebih ketat diberlakukan selama PSBB, seperti menutup sekolah, tempat kerja, dan membatasi pertemuan keagamaan. Sementara pada periode WFH, tempat-tempat umum dibuka namun protokol kesehatan ditegakkan, masyarakat wajib memakai masker, melaksanakan social - distancing dan dilarang berkumpul. Akibatnya, terdapat banyak foto Jakarta dengan langit biru beredar di media sosial, menandakan peningkatan kualitas udara selama sebagian bersar penduduk tinggal dirumah. Efek jangka pendek untuk pembatasan sosial ini cukup mencolok dan mungkin ada dampaknya pada kualitas udara. Tetapi hal itu bergantung pada tingkat dan sifat kebijakan pembatasan sosial. Namun, secara keseluruhan, penurunan NO? memang terjadi di beberapa daerah tetapi kadar PM2.5, polutan udara yang paling berbahaya belum menurun secara signifikan.



Dengan diberlakukannya WFH, Jakarta mengalami penurunan sekitar 40% pada konsentrasi NO?, diduga karena pengurangan terutama dari transportasi dan manufaktur. Penurunan ini signifikan dibandingkan tahun lalu. Namun, tingkat PM2.5 tetap konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya dan mengalami sedikit penurunan. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, dari tanggal 15 April hingga 4 Maret 2020 hanya terjadi sedikit penurunan sebesar 9% di Jakarta Pusat, 11% di Jakarta Utara, 6% di Jakarta Selatan, 23% di Jakarta Timur dan 13% di Jakarta Barat.¹ Sementara itu, dari data periode PSBB yang diukur dari tanggal 13 April sampai dengan 4 Juni menunjukkan penurunan yang sedikit lebih tinggi kecuali untuk Jakarta Selatan. Penurunan 10% terjadi di Jakarta Pusat, 10% di Jakarta Utara, 4% di Jakarta Selatan, 23% di Jakarta Timur dan 24% di Jakarta Barat.¹ Namun demikian, tingkat PM2.5 di wilayah tersebut masih di atas ambang batas aman 25 μg / m³ untuk rata-rata 24 jam yang direkomendasikan oleh WHO.

Berkurangnya aktivitas lalu lintas mungkin menyebabkan langit terlihat lebih cerah selama PSBB karena penyumbang terbesar PM2.5  berasal dari sumber kendaraan yaitu  46?ri total konsentrasi PM2.5.¹  Berkurangnya aktivitas lalu lintas juga terjadi secara global, sehingga menyebabkan  emisi global berkurang sebesar 43% selama pandemi COVID-19.² Menurut Dinas Perhubungan DKI Jakarta, terdapat penurunan lalu lintas sebesar 44% selama PSBB, lebih besar daripada saat WFH diterapkan yaitu hanya 21%.³

Penurunan aktivitas lalu lintas yang drastis tidak otomatis menurunkan PM2,5 di DKI Jakarta. Hal ini dimungkinkan karena kontribusi PM2.5 dari sumber lalu lintas hanya menyumbang 46?ri total emisi di DKI Jakarta, sedangkan sumber lainnya tetap besar, seperti pembakaran industri sebanyak 43%, pembangkit listrik sebanyak 9?n pembakaran rumah tangga sebesar 2%. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa beberapa industri di Jakarta atau di sekitar Jakarta mungkin masih beroperasi selama WFH dan PSBB sehingga berkontribusi terhadap polusi udara di sekitarnya.

PM2.5 juga merupakan masalah polusi lintas batas, ada kemungkinan sumber dari luar Jakarta berkontribusi pada level PM2.5 selama PSBB dan WFH. Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebutkan bahwa pada 12 April, massa udara dengan kadar PM2.5 yang tinggi bergerak menuju Jakarta dan terdeteksi melalui stasiun pemantau kualitas udara di Kedutaan Besar AS di Jakarta Selatan dan Pusat, sehingga hal ini menjadi penyebab tingkat PM2.5 tetap konsisten dan tidak menurun signifikan selama PSBB, meskipun lalu lintas berkurang. Selain itu, lokasi geografis Jakarta juga masih kurang baik karena dikelilingi oleh pusat-pusat industri di kota-kota satelit seperti: Bekasi dan Tangerang.

Secara singkat, meskipun terjadi penurunan besar-besaran dalam penggunaan kendaraan dan beberapa penghentian industri selama pandemi, kualitas udara belum membaik. Fenomena ini mengungkapkan bahwa polusi udara tidak hanya berasal dari sumber yang paling terlihat seperti lalu lintas dan diproduksi secara lokal. Tidak adanya dampak yang terlihat pada kualitas udara selama COVID-19, menggambarkan bahwa ada sumber polusi udara lainnya yang harus diidentifikasi dan ditangani.

Peningkatan kualitas udara harus disertai dengan kebijakan jangka panjang yang lebih baik yang juga akan mengubah kebiasaan dan praktik masyarakat. Untuk saat ini, diperlukan studi pendukung untuk memetakan sumber pencemaran di DKI Jakarta untuk pengelolaan udara yang lebih baik dan perumusan kebijakan.

Referensi:
¹Lestari, Puji. Inventarisasi Emisi Udara DKI Jakarta. Indonesia Center of Environmental Law (ICEL). Diambil dari https://icel.or.id/wp-content/uploads/Brief-Inventarisasi-emisi-udara-jakarta-OK.pdf. 16 Juni 2020.
²Keating, Dave. “It Turns Out COVID Isn't Helping The Climate,” May 19, 2020. https://www.forbes.com/sites/davekeating/2020/05/19/it-turns-out-covid-isnt-helping-the-climate/.
³Paat, Yustinus. “Selama PSBB di Jakarta, Volume Lalu Lintas dan Penumpang di Angkutan Publik Turun Drastis. Berita Satu. Diambil dari https://www.beritasatu.com/megapolitan/635059-selama-psbb-di-jakarta-volume-lalu-lintas-dan-penumpang-di-angkutan-publik-turun-drastis. 19 May 2020.
4Tambunan, Liza. “Kualitas Udara Jakarta Selama PSBB Membaik, Namun 'Tingkat Polutan Berbahaya PM 2.5 Tetap Konsisten'.” BBC News Indonesia. Diambil dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52755813.