Masalah polusi adalah masalah kita semua

Polusi udara di lingkungan perkotaan merupakan masalah yang kompleks.Terdapat banyak sumber polusi, dan polutan yang dikeluarkannya lalu menempuh jarak yang jauh dari satu provinsi ke provinsi lain, melalui angin atau kondisi cuaca lainnya. Banyak orang salah menilai bahwa emisi kendaraan adalah satu-satunya penyebab dari masalah polusi udara di Jakarta. Inventarisasi emisi lokal yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kendaraan hanya menyumbang 46 persen total konsentrasi ambien PM2.5, polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia.1 Dengan demikian, emisi PM2.5 dari sumber lain juga harus diatasi, terutama di daerah perkotaan.

Sebagai bagian dari Peta Jalan, Vital Strategies bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengidentifikasi sumber pencemaran udara lokal dan regional yang mempengaruhi kota dan mendukung penyusunan peta jalan pengelolaan kualitas udara di DKI Jakarta. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa sumber umum pencemaran udara meliputi, tetapi tidak terbatas pada, transportasi (jalan raya, rel, udara dan laut), pembakaran industri, pembakaran sampah terbuka, kegiatan konstruksi, debu jalan dan tanah yang tersuspensi. Selain itu, studi tersebut menunjukkan bahwa sumber yang dihasilkan secara lokal (mis., knalpot kendaraan) dan sumber regional (mis., pembangkit listrik) memengaruhi kualitas udara di Jakarta.

Polusi udara mempengaruhi kesehatan masyarakat

Untuk meningkatkan kualitas udara dengan cepat dan mengurangi beban pencemaran udara pada kesehatan, diperlukan langkah-langkah pengendalian pencemaran yang terbukti untuk mengatasi setiap sumber emisi ini.

Informasi lebih lanjut mengenai kajian pembagian sumber (source apportionment) di Jakarta silakan klik tautan di sini.





 

Jadilah yang pertama mengetahui tentang sumber polusi udara yang mempengaruhi Jakarta.

Siapa yang Paling Rentan Terkena Dampak Polusi Udara?
Anak-anak dan ibu hamil

Anak-anak lebih rentan terhadap efek polusi udara karena mereka lebih aktif dan paru-paru mereka masih tumbuh. Di Indonesia, polusi udara adalah salah satu faktor risiko utama kematian di kalangan anak-anak di bawah usia lima tahun. Polusi udara juga meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil dan berpotensi menyebabkan kelahiran prematur dan bayi dengan berat kurang2.

Lansia

Lansia umumnya memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah serta fungsi paru-paru dan jantung yang menurun sebagai efek alami dari penuaan. Polusi udara dapat memperburuk penyakit jantung dan paru-paru yang sudah mereka miliki.

Komuter

Bepergian dengan moda transportasi membuat para komuter di dalam kendaraan dan di trotoar terpapar konsentrasi polutan yang lebih tinggi3.

Pekerja di Luar Ruangan

Orang yang bekerja di luar ruangan seperti pedagang kaki lima dan petugas lalu lintas akan menghirup udara yang tercemar untuk jangka waktu yang lebih lama4.

Referensi
1 Preliminary results from the Toyota Clean Air Project (TCAP), 2019 (Principal Investigator: Prof. Puji Lesteri)
2 Sacks JD, Stanek LW, Luben TJ, Johns DO, Buckley BJ, Brown JS, et al. 2011. Particulate matter-induced health effects: who is susceptible? Environ Health Perspect 119:446–54;
3 Chaney RA, Sloan CD, Cooper VC, Robinson DR, Hendrickson NR, McCord TA, et al. 2017. Personal exposure to fine particulate air pollution while commuting: An examination of six transport modes on an urban arterial roadway. R.A. Coulombe, ed PLoS One 12:e0188053;
4 Choudhary H, Tarlo SM. 2014. Airway effects of traffic-related air pollution on outdoor workers. Curr Opin Allergy Clin Immunol 14:106–12;